Islamic Widget

Senin, 14 Maret 2011

Belajar Bisnis dari Sang "Elang"



*Elang Gumilang, Mahasiswa Bangun Perumahan untuk Orang Miskin Demi
Keseimbangan Hidup*

Selama ini banyak developer yang membangun perumahan namun hanya bisa
dijangkau oleh kalangan menengah ke atas saja. Jarang sekali developer yang
membangun perumahan yang memang dikhususkan bagi orang-orang kecil. Elang
Gumilang (22), seorang mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi
ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum kecil yang tidak memiliki
rumah. Meski bermodal pas-pasan, ia berani membangun perumahan khusus untuk
orang miskin. Apa yang mendasarinya?

Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat
lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari
itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita
melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan
kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang
Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil
duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini,
langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB.
Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan
menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah
bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60
meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan
khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang
mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.

Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh
(55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada,
yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu
rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala
sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa
rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah
mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat
lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak
kesayangan guru-gurunya.

Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor,
Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini
mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan.
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu
yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri
mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam
hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai
kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia
pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta
untuk modal kuliahnya kelak.

Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai
berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia
mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk
kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari
hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu.
Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini
tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir
Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka
khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria
pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan
cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa,
Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang
juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap
perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.

Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB
(Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB
(Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang
akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah
menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa
tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan
uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa
musibah yang dialaminya tersebut.

Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya
bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp
1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat
usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi
setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa
mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu
pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang
memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.

Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis
apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia
akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis
ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di
kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak
lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang
menggiurkan,

” paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang menggunakan
strategi Aristoteles Onasis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Aristoteles Onasis
sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Aristoteles Onasis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di
Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Aristoteles Onasis
selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak
memperdulikannya. Tapi karena Aristoteles Onasis selalu melambaikan tangan setiap hari,
pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu
selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu
menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar
dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban
dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel
kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha
Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di
kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka,
jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal. 
Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan
lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah
proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15
juta,” ucapnya bangga.

Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang
mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di
bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke
warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan
puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke
warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang
kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan
harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga
mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya
sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.

Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari
pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk
minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa
berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis
yang tidak menggunakan otot.

Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga
Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau
kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia
patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu
sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk
mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara
profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas
Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.

Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan
hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai
marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya
hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.

Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak
suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu
Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik
keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia
mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB
hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi
yang saya cari di dunia ini?” batinnya.

Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan
jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat
itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan
oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat
istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur
saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di
Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat
bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?”
Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun
kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya.

Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan
di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai
tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu
membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani
sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih
besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.

Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya
atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang
terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal
di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi
rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh
dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di
kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya
kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai
sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya.

Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang,
kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga
kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan
terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan
sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong
untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka
ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan
Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak
punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk
patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai
membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin
berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu.
Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah
bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.

Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe
36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut
ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya
dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun,
mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.

Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya
mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap
awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi
fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam,
angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat
dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah,
kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha
(TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.

Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak
lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan
diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam
setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang
yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan)
pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang
yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada
hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen
dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan
bahkan tahunan kepada fakir miskin.

Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah
kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika
dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin.

Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan
dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua
anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia
dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal.
Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia
itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita
hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi
catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan
sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika
seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal
orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain
sebagainya.

Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan
gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa
padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari
peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika
malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid.
“Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang
berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai
mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat
Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.

Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran
yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga
tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam
halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah.
Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung
kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat
mati,” ujarnya.

Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib”
Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di
ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama
ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi
dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?,
sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi
padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.

Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah
langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan
mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah
mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya,
karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan
cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya.
Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.

Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian
tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu
pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia
tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa
wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan
dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang
anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang
merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di
hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal
di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan
Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset,
pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya.

Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta,
ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu,
terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih
luas.

Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang
Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan
mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami
hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa
biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal,
prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan
rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi
perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan
daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.

Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah
semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman,
masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman.
Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan.

Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi
Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan
100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah
ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan
meraih kemuliaan dunia serta akhirat.

Rabu, 09 Maret 2011

Forum Indonesia Muda 10





FIM telah membuka pendaftaran Leadership and Life Skill Training untuk angkatan ke 10. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada pelatihan tahun ini FIM akan menghadirkan mahasiswa dan pemuda yang aktif dan berprestasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Untuk mengikuti pelatihan ini, peserta akan diseleksi melalui berkas-berkas aplikasi yang dikirim. Peserta tidak akan dipungut biaya sama sekali.
Tema
Tema pelatihan FIM 10 adalah “Leadership Lifeskill Featuring Entrepreneurship.
Waktu dan Tempat
28 April – 2 Mei 2011 di Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta.
Fasilitas
Akomodasi dan konsumsi selama pelatihan.
Ketentuan Peserta
Untuk menjadi peserta pelatihan ini, pendaftar harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.       Warga negara Indonesia
2.       Mampu menghadiri seluruh sesi pelatihan FIM dari awal sampai akhir sesuai jadwal yang ditetapkan
3.       Peduli terhadap lingkungan sekitar dan aktif melakukan perubahan melalui berbagai kegiatan dan komunitas/organisasi
Ketentuan Pendaftaran
1.       Mengisi formulir pendaftaran pelatihan FIM 10 dengan lengkap. Formulir bisa di-download di sini.
2.       Membuat esai dengan ketentuan sebagai berikut:
1.       Tema besar:  ”Leadership Lifeskill Featuring Entrepreneurship
2.       Susunan esai:
1.       Pendahuluan (latar belakang ide, visi entrepreneurship)
2.       Isi:
1.       Gambaran ide usaha. Gunakan pendekatan analisis SWOT (strength, weaknesses, opportunity, threat)
2.       Rencana pelaksanaan ide. Gunakan kriteria SMART (specific, measurable, attainable, relevant, time-bound)
3.       Khusus untuk yang memiliki pengalaman berwirausaha, ditambahkan dengan budgeting, performance usaha selama ini, dan hambatan yang pernah dialami.
3.       Referensi (jika ada)
3.       Format teknis: font Arial 11pt, spasi 1.5, panjang esai maksimal 5 halaman penuh A4 dengan margin 3-3-3-3.
4.       Kelengkapan konten dan kesesuaian dengan format yang ditentukan mempengaruhi penilaian esai.
3.       Menyertakan surat rekomendasi dari organisasi yang sedang atau pernah diikuti. Latar belakang organisasi tidak dibatasi, dapat berupa organisasi mahasiswa, LSM, Karang Taruna, dll.
4.       Ketiga berkas di atas dikirimkan ke alamat email FIM di forumindonesiamuda@yahoo.co.id dengan format kompresi zip / rar / sejenis dalam satu file yang diberi nama RegistrasiFIM10_(nama calon peserta). Contohnya, jika nama peserta adalah Riesni Fitriani, maka nama berkas pendaftaran yang dikirimkan ialah: RegistrasiFIM10_Riesni Fitriani.zip / RegistrasiFIM10_Riesni Fitriani.rar
Tahapan Pendaftaran

Waktu pendaftaran akan berlangsung dari tanggal 7 Maret – 3 April 2011, dan dibagi menjadi beberapa tahapan sebagai berikut :
1.       Bagi calon peserta yang namanya diawali dengan huruf A – M diperkenankan mengirimkan berkas pendaftaran dari tanggal 7 – 18 Maret 2011 pukul 23.59 WIB.
2.       Bagi calon peserta yang namanya diawali dengan huruf N – Z diperkenankan mengirimkan berkas pendaftaran dari tanggal 19 – 26 Maret 2011 pukul 23.59 WIB.
3.       Gerbong Belakang : Bagi yang mengirimkan berkas dari tanggal 27 Maret – 3 April 2011 pukul 23.59 WIB akan tetap kami terima, dengan kuota penerimaan dari tahap ini HANYA 10%.
Kapasitas peserta FIM 10 adalah 120 orang dengan rincian:
·         60 orang untuk kategori peserta yang belum pernah memiliki pengalaman wirausaha
·         60 orang lainnya untuk yang sudah memiliki pengalaman berwirausaha dalam lingkup apapun
Peserta terpilih akan diumumkan melalui website ini pada tanggal 16 April 2011. Give your best shot to join us! :)
Download Formulir Pendaftaran
Formulir pendaftaran FIM 10 bisa diunduh di sini. here

Kontak
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi kontak di bawah ini:
·         Riesni Fitriani (0878 8111 1888)
·         Wulandari (0852 6329 7886)

      More info : http://forumindonesiamuda.org

Minggu, 06 Maret 2011

3 Kisah Penyandang Tuna Netra yang Luar Biasa

Menonton acara Kick Andy pada tanggal 4 Maret 2011 dengan tema Menggapai Asa Dalam Gulita terdapat kisah 3 orang narasumber yang sungguh luar biasa. Tiga orang penyandang tuna netra yang mampu mengubah paradigma orang tentang dunia pendidikan. Bahwa setiap berhak tanpa kecuali untuk merasakan nikmatnya belajar dalam sebuah institusi pendidikan. Seperti halnya kisah Helen Keler yang luar biasa, kisah Mimi Mariani Lusli, Tolhas Damanik, dan Saharudin Daming ini pun tidak kalah luar biasa. 
Semoga kisah ini dapat memotivasi kita semua, kalau mereka saja mampu kenapa kita yang dikaruniai oleh Allah SWT dengan tubuh yang sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun tidak..................


Mimi Mariani Lusli: Penyandang Tuna Netra yang Jadi Dosen di Atmajaya

”Tunanetra kerap dicap sebagai tukang pijit dan pemain musik. Saya tertantang untuk berkarya di kalangan orang-orang normal,” kata Mimi Mariani Lusli, wanita kelahiran Jakarta, 17 Desember 1962.
Mimi Mariani Lusli adalah satu-satunya tunanetra yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di Universitas Atmajaya, Jakarta. Hal yang membuatnya istimewa adalah alumnus Leeds University, Inggris itu menjadi dosen setelah menempuh jalur pendidikan di sekolah dan universitas umum.
Berbeda dengan penyandang tunanetra yang kebanyakan sulit beradaptasi dengan lingkungan sekolah, Mimi justru senang bersaing dengan rekan-rekan yang normal.
Mimi yang anak ketiga di antara empat bersaudara itu menyadari penglihatannya mulai kabur sejak berusia 10 tahun, yakni saat dia duduk di bangku SD Candranaya, Jakarta Barat. Dia mengalami penyakit genetik retinitis pigmentosa yang merupakan penyakit degenerasi retina. Penyakit itu memiliki kecenderungan untuk diturunkan secara genetis. Pada retinitis pigmentosa, terjadi degenerasi fotoreseptor retina secara bertahap sehingga menyebabkan hilangnya penglihatan secara progresif.
‘Manifestasi gejala-gejala pada penderita retinitis pigmentosa adalah sulit melihat pada malam hari dan rabun senja, penyempitan lapang penglihatan secara perlahan, dan berlanjut pada kebutaan,” jelasnya. Karena penyakit itu mengenai saraf dan genetik, sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif.
Anak pasangan Kuswandi Lusli dan Yuliawati itu pun berkali-kali dibawa ke dokter mata. Ketika penyakitnya makin parah, dia tidak bisa lagi menulis di buku. Akibatnya, ketika duduk di kelas V SD, Mimi tidak bisa bersekolah lagi.
Pada usia 17 tahun, Mimi benar-benar mengalami kebutaan total. Rasa iri mulai muncul karena kakak dan adiknya bisa pergi belajar di sekolah. Pada saat yang sama, Mimi terus berganti dirawat di dokter mata dan dokter saraf. Sambil terus berobat itu, Mimi akhirnya bisa menempuh pendidikan di Sekolah Tunagrahita Bakti Luhur, Malang, Jawa Timur.
”Saya harus menerima kenyataan ketika suatu hari dokter memberi tahu bahwa penyakit saya tak bisa sembuh,” kata wanita yang memiliki nama panjang Veronika Laetitia Mimi Mariani Lusli ini.
Sekitar sebulan setelah itu, dia memilih mengisolasi diri dari dunia luar. Namun, kondisi tersebut justru membuat keluarganya terpacu untuk memberi dukungan. Melalui bimbingan rohani sejumlah pastor dan konsultasi panjang dengan psikolog, Mimi berusaha bangkit.
”Saya bangkit setelah membandingkan kondisi teman-teman tunagrahita. Mereka punya mata dan kuping, tapi tidak pernah dipakai secara baik,” ujar Mimi.

Dra. Mimi Mariani Lusli, M.Si., M.A.
Setelah menyelesaikan studi setara SMP di Malang pada 1982, Mimi melanjutkan studi di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Santa Maria (1982-1985). Dia kemudian berhasil menyelesaikan sarjananya di IKIP Santa Dharma Jogja (1985-1989).
Setelah itu, dia mengambil Master of Sains di Universitas Indonesia (UI) Depok (1995-1997). Mimi juga memperoleh beasiswa dari British Council, sehingga bisa lulus program studi Master of International Communication di Leeds University, Inggris.
Tak cukup sampai disitu, perempuan pejuang ini sekarang sedang melanjutkan kuliah kedoktorannya di Faculty of Earth and Life Sciences Universitas of Amsterdam di Belanda. “ Bagiku belajar itu mengasyikan,” kata salah satu pendiri yayasan Mitra Netra ini.
Mimi punya cara tersendiri untuk bisa sekolah dan kuliah bersama orang-orang normal. “Kami orang tuna netra harus punya konsentrasi penuh untuk bisa menyimak dengan baik,” kata Mimi tentang salah satu trik belajarnya.
Sebagai penyandang buta, trik-trik studi yang diterapkan Mimi cukup unik. Ketika harus memahami sebuah materi perkuliahan, dia mencari rekan yang suka diajak berdiskusi. Kalau hendak ke perpustakaan, dia mengajak temannya yang kutu buku membaca ke perpustakaan.
Mimi juga dibantu sejumlah teman serta saudaranya ketika harus membaca diktat perkuliahan dan menyelesaikan tugas. ”Saya juga berlagak seperti wartawan. Di kampus, saya membawa tape recorder kecil untuk merekam mata kuliah supaya bisa diulang di rumah,” jelasnya.
Pada 1991-2003, Mimi mengajar metode bergaul dan komunikasi dengan orang cacat di Universitas Atma Jaya, Jakarta. Berbagai organisasi penyandang tunanetra ditekuni. Misalnya, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Organisasi sangat gigih memperjuangkan kesetaraan hak dan menganalisis pasal-pasal dalam GBHN yang diskriminatif terhadap penyandang tunanetra.
Mimi kini merancang sebuah metode pembelajaran tentang teori disabilitas bagi penyandang cacat maupun bagi orang normal. Program itu  dimatangkan Universitas Indonesia. Pada mata kuliah tersebut, dia mendesain teori ilmu komunikasi bagi tiap individu dari dua sisi dunia itu untuk memudahkan proses interaksi.
”Sebab, orang normal dan orang cacat itu bagai sisi mata uang yang berbeda, sehingga harus ada jembatan bagi mereka untuk saling memahami,” ujarnya.
Dia berharap, dengan mempelajari mata kuliah tersebut, mahasiswa yang terjun ke dunia profesi akan terasah kepekaannya terhadap sesama. Khususnya terhadap para penyandang cacat. ”Coba Anda jalan-jalan di tempat umum dan teliti berapa persen bangunan dan lokasi yang ‘ramah’ terhadap penyandang cacat,” ungkapnya mengkritik.
Perubahan sikap itulah yang kini juga gencar dia kampanyekan melalui metode belajar di Mimi Institute. Lewat institut itu, dia mengajarkan pelatihan sensitivitas kepada semua orang. Tiap peserta dilatih untuk memahami karakteristik penyandang cacat. ”Saat ini banyak hal yang tidak nyambung ketika penyandang cacat berinteraksi dengan orang normal,” tegasnya.
Seakan ingin terus menularkan semangatnya pada orang lain, Mimi banyak sekali berkecimpung dengan lembaga-lembaga sosial yang membantu pendidikan para penyandang cacat, terutama tuna netra. Mimi telah membangun Mimi Institute, sebuah lembaga yang memiliki visi agar para penyandang cacat memiliki hidup yang lebih baik.

Tolhas Damanik: Konsultan Tuna Netra Lulusan S2 Ohio University, AS


Tolhas Damanik adalah penyandang tuna netra sejak lahir. Penyakit glaukoma sejak lahir telah membuat Tolhas tak bisa melihat dunia ini dengan kedua bola matanya. Keterbatasan penglihatan tidak membuat Tolhas Damanik pupus semangat. Keinginannya mencapai pendidikan tinggi membuat semangatnya terus berkobar.
Semuanya dibuktikan dengan diperolehnya beasiswa dari Ford Foundation untuk jenjang pendidikan pascasarjana. “Beasiswa ini juga merupakan hadiah untuk penyandang tuna netra lainnya,” kata Tolhas.
Dorongan dan keinginan orangtua agar Tolhas mendapatkan pendidikan layak yang membuatnya memperoleh beasiswa. Di samping pada saat itu belum ada sekolah luar biasa di Bangka Belitung.
Sejak kecil Tolhas belajar di sekolah umum. Jadi ia harus beradaptasi dengan sistem pendidikan yang memang diperuntukan bagi siswa-siswa yang tidak buta, tapi hal ini tidak memupus semangatnya untuk terus maju.
Di luar keterbatasannya, ternyata Tolhas memiliki prestasi yang baik sehingga ia dapat lulus SMP. Setelah selesai sekolah menengah pertama, ia terpaksa harus mencari SMA, karena pihak sekolah hanya mempunyai fasilitas untuk TK, Sd, dan SMP. Ia kemudian melanjutkan ke sekolah menengah atas umum. Namun disadarinya kemudian, Tolhas mengalami diskriminasi di sekolah umum.
Beberapa siswa memandangnya sebelah mata dan merasa iri karena prestasinya. “Saya terdiskriminasi sehingga saya di drop out dari sekolah itu,” katanya. Dengan alasan memeriksakan mata, Tolhas dan keluarga memutuskan untuk ke Jakarta. Namun pihak dokter yang menanganinya tidak dapat menjamin matanya bisa disembuhkan.
Vonis dokter tersebut tidak membuat Tolhas patah semangat. Ketika ada yang menyarankan untuk mengikuti ujian persamaan, Tolhas pun melakukannya dan berikutnya adalah mengikuti UMPTN, seleksi untuk masuk perguruan tinggi.
“Itu suatu hal yang tidak pernah terpikir bagi saya, dan mana mungkin sampai bisa ke arah sana, tapi saya dapat melanjutkan sekolah di Universitas Negeri Jakarta (dulu IKIP Jakarta), jurusan bimbingan konseling,” katanya.
Setelah itu, Tolhas pun bergabung dengan Yayasan Mitra Netra yang merupakan awal bergabungnya dengan komunitas tuna netra lainnya. “Di situ saya sebagai konsultan, yang pada awalnya misi dari yayasan itu sendiri dan pribadi, yaitu menciptakan pendidikan inklusif, yang ingin mewujudkan agar tuna netra juga bisa mendapat pendidikan yang sama dengan yang lain,” ungkapnya.
”Lulus dari sarjana, saya coba-coba untuk mencari beasiswa. Karena saya tidak punya biaya untuk kuliah”, tutur anak dari Usman Damanik dan Sintaria Simatupang ini.
Ia mencoba-coba untuk mencari beasiswa ke luar negeri dengan pertimbangan beasiswa dari negara asing akan memberikan banyak porsi dan aksesibilitas, semisal buku dan alat-alat pembelajaran, hingga iklim yang lebih menerima orang dengan keterbatasan.
“Negara asing memang memberikan peluang lebih besar dan juga memberikan tempat bagi orang seperti saya”, katanya.
Tolhas pun bercerita, dari dulu yang dicita-citakannya adalah bagaimana bisa belajar.“Walaupun jalannya tidak mulus, selama masih ada kesempatan kenapa tidak,” katanya. Semuanya ia buktikan ketika memperoleh beasiswa Ford Foundation.
Anak bungsu dari empat bersaudara ini sukses menembus ketatnya persaingan meraih beasiswa pascasarjana dari Ford Foundation. Tolhas berhasil menyisihkan 6.000 pelamar lainnya. Satu-satunya penerima beasiswa penyandang cacat ini memulai studinya di AS.
Tolhas mampu melewati banyak hal sulit dan berhasil menyelesaikan gelar masternya bidang Konseling di Ohio University, Amerika Serikat. “Semakin sadar saya punya hambatan, semakin besar keinginan saya untuk sekolah,” katanya.
Kini Tolhas sudah kembali ke tanah air dan bekerja di lembaga non profit sebagai konsultan pendidikan. Ia juga sering diundang sebagai pembicara dalam seminar pendidikan inklusif dan konseling, di dalam maupun luar negeri.

Saharudin Daming: Tuna Netra Pertama Indonesia Penyandang Gelar Doktor Hukum


Pada 21 Juni 2007, terjadi peristiwa yang takkan pernah dilupakan para pemerhati Hak Asasi Manusia Indonesia, yakni untuk kali pertamanya keanggotaan Komnas HAM diisi oleh seorang tuna netra. Sosok tersebut adalah Saharuddin Daming, seorang pria asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan.
Saharuddin lahir pada 28 Mei 1968, sebagai bungsu dari lima bersaudara. Pada usia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kejadian inilah yang mendorong Daming kecil untuk membantu ibunya dan keempat kakaknya mencari uang, sepulangnya dari sekolah. Hingga akhirnya mereka mampu untuk membeli sebuah rumah panggung khas Bugis.
Rumah yang baru dibeli tersebut masih harus diperbaiki karena ada beberapa bagian struktur rumah dan atap yang lepas. Ketika melakukan pembongkaran inilah, mata kanan Daming, secara tak sengaja, kemasukan serpihan halus atap nipah. Kejadian ini yang menjadi awal Saharuddin bermasalah dengan indera penglihatannya.
Serpihan halus dari nipah tersebut telah mengakibatkan mata kanannya mengalami kebutaan total. Bertumpu pada mata kirinya, ia melanjutkan kegemarannya untuk membaca buku. Sayangnya, kegiatan ini tidak didukung oleh penerangan yang memadai yang mengakibatkan mata kirinya juga menjadi buta total.
Dokter memvonis sistem saraf dari otak ke retina matanya lumpuh. Namun demikian, kejadian ini tidak mengakibatkan dirinya menjadi putus asa. Ia terus melanjutkan kegemarannya tersebut meski dengan menggunakan media lain, yaitu dalam bentuk Braille.
Kebutaannya sejak usia 10 tahun tak menghalangi Saharudin untuk meraih cita-cita. Sejak kecil Saharudin bersekolah di sekolah umum. Saat suatu hari kepala sekolahnya di SMA menyatakan ia harusnya ke sekolah luar biasa, Saharudin pun memberikan argumennya.
“Pak kalau sekolah saya luar biasa, nanti kuliah harus di universitas luar biasa juga, kerjanya di tempat luar biasa, dan gajinya luar biasa. Saya bilang begitu ,” tutur Saharudin diakhiri tawa.
Berpegang pada pengalaman pribadinya sebagai seorang tuna netra yang seringkali disisihkan, ia menjadi paham dan peka akan penindasan HAM. Hal inilah yang mendorongnya untuk bercita-cita menjadi anggota Komnas HAM sebagai salah satu upaya penyadaran publik akan hak-hak dasar sebagai manusia dan warga negara.
Ia akhirnya menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar tahun 1994, mulai aktif di LSM dan organisasi pemberdayaan penyandang cacat kemudian melanjutkan ke pendidikan advokat. Partisipasinya peserta ujian advokat dianggap tak lazim oleh Pengadilan Tinggi Makassar, kualitas atas jawaban ujian yang ia berikan diragukan dan ia dinyatakan tidak lulus. Saharuddin tidak tinggal diam, ia mengajukan protes ke Mahkamah Agung. Tindakan ini membuahkan hasil, ia berhasil dilantik menjadi advokat dengan status lulus susulan.
Dengan perjuangannya meyakinkan banyak pihak dalam dunia pendidikan dan HAM, dirinya berhasil menamatkan Magister Hukum di Universitas Hasanuddin pada tahun 2002 dan menjadi Doktor Ilmu Hukum, Universitas Hasanuddin. Dan perlu dicatat, dia adalah tuna netra pertama di Indonesia yang menyandang gelar ini.
Semangat, ketekunan, dan kecerdasan telah mengantar Saharuddin, sebagai orang yang layak menduduki jabatan penting. Ia kini menjadi Komisioner Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, atau Komnasham, periode 2007 hingga 2012.
Sumber: KickAndy.commimiinstitute.com (kompas), mimiinstitute.com, kabarinews.com, indopos, indonesiaproud.wordpress.com

Kamis, 03 Maret 2011